1. Fungsi Agama
Dari segi pragmatisme,
seseorang itu menganut sesuatu agama adalah disebabkan oleh fungsinya. Bagi
kebanyakan orang, agama itu berfungsi untuk menjaga kebahagiaan hidup. Tetapi
dari segi sains sosial, fungsi agama mempunyai dimensi yang lain seperti apa
yang dihuraikan di bawah ini:
1) Memberi pandangan dunia kepada satu-satu budaya
manusia.
2) Agama dikatankan memberi pandangan dunia kepada
manusia kerana ia sentiasanya memberi penerangan mengenai dunia(sebagai satu
keseluruhan), dan juga kedudukan manusia di dalam dunia. Penerangan bagi pekara
ini sebenarnya sukar dicapai melalui inderia manusia, melainkan sedikit
penerangan daripada falsafah. Contohnya, agama Islam menerangkan kepada umatnya
bahawa dunia adalah ciptaan Allah SWTdan setiap manusia harus menaati Allah
SWT.
3) Menjawab berbagai persoalan yang tidak mampu dijawab
oleh manusia. Persoalan yang sentiasa ditanya oleh manusia merupakan persoalan
yang tidak terjawab oleh akal manusia sendiri. Contohnya soalan kehidupan
selepas mati, amatlah menarik dan untuk menjawabnya adalah perlu. Maka,
agama itulah berfungsi untuk menjawab soalan-soalan ini.
4) Menjawab berbagai soalan yang tidak mampu dijawab oleh
manusia.
5) Fungsi edukatif, Agama memberikan bimbingan dan
pengajaaran dengan perantara petugas-petugasnya (fungsionaris) seperti syaman,
dukun, nabi, kiai, pendeta imam, guru agama dan lainnya, baik dalam upacara
(perayaan) keagamaan, khotbah, renungan (meditasi) pendalaman rohani, dsb.
6) Fungsi penyelamatan, bahwa setiap manusia menginginkan
keselamatan baik dalam hidup sekarang ini maupun sesudah mati. Jaminan keselamatan
ini hanya bisa mereka temukan dalam agama. Agama membantu manusia untuk
mengenal sesuatu “yang sakral” dan “makhluk teringgi” atau Tuhan dan
berkomunikasi dengan-Nya. Sehingga dalam yang hubungan ini manusia percaya
dapat memperoleh apa yang ia inginkan. Agama sanggup mendamaikan kembali
manusia yang salah dengan Tuhan dengan jalan pengampunan dan Penyucian batin.
7) Fungsi pengawasan sosial (social control)
8) Memberi rasa kekitaan kepada sesuatu kelompok manusia.
9) Agama merupakan satu faktor dalam pembentukkan
kelompok manusia. Ini adalah kerana sistem agama menimbulkan keseragaman bukan
sahaja kepercayaan yang sama, malah tingkah laku, pandangan dunia dan nilai
yang sama.
10) Memainkan
fungsi kawanan sosial.
11) Kebanyakan
agama di dunia adalah menyaran kepada kebaikan. Dalam ajaran agama sendiri
sebenarnya telah menggariskan kod etika yang wajib dilakukan oleh penganutnya.
Maka ini dikatakan agama memainkan fungsi kawanan sosial.
2. Dimensi Komitmen Agama menurut Roland Robertson.
1) Dimensi keyakinan: mengandug perkiraan atau harapan
bahwa orang yang religius akanmenganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia
akan mengikuti kebenaran ajaran-ajarantertentu.
2) Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan
berbakti , yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secra nyata. Ini
menyangkut hal yang berkaitan dengan seperangkat upacara keagamaan, perbuatan
religius formal, perbuatanmulia, berbakti tidak bersifat formal, tidak bersifat
publik dan relatif spontan.
3) Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta , bahwa semua
agama mempunyai perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius pada
suatu waktu akan mencapai pengetahuan yang langsung dan subjektif tentang
realitas tertinggi, mampu berhubungandengan suatu perantara yang supernatural
meskipun dalam waktu yang singkat.
4) Dimensi pengetahuan dikaitkan, dengan perkiraan bahwa
orang-orang yang bersikapreligius akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran
pokok keyakinan dan upacarakeagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi keagamaan
mereka.
5) Dimensi konsekuensi dari komitmen religious, berbeda
dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.
3. 3 tipe kaitan agama dengan masyarakat.
Kaitan agama dengan
masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggambarkan
sebenarnya secara utuh (Elizabeth K. Nottingham, 1954), yaitu:
1) Masyarakat yang terbelakang dan nilai- nilai sacral.
Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyarakat
menganut agama yang sama. Oleh karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat,
dalam kelompok keagamaan adalah sama.
2) Masyarakat- masyarakat pra- industri yang sedang
berkembang. Keadaan masyarakat tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi yang
lebih tinggi daripada tipe pertama. Agama memberikan arti dan ikatan kepada
sistem nilai dalam tipe masyarakat ini. Dan fase kehidupan sosial diisi dengan
upacara- upacara tertentu.
3) Masyarakat- masyarakat industri secular. Masyarakat
industri bercirikan dinamika dan teknologi semakin berpengaruh terhadap semua
aspek kehidupan, sebagian besar penyesuaian- penyesuaian terhadap alam fisik,
tetapi yang penting adalah penyesuaian- penyesuaian dalam hubungan kemanusiaan
sendiri. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai konsekuensi
penting bagi agama, Salah satu akibatnya adalah anggota masyarakat semakin
terbiasa menggunakan metode empiris berdasarkan penalaran dan efisiensi dalam
menanggapi masalah kemanusiaan, sehingga lingkungan yang bersifat sekular
semakin meluas. Watak masyarakat sekular menurut Roland Robertson (1984), tidak
terlalu memberikan tanggapan langsung terhadap agama. Misalnya pemikiran agama,
praktek agama, dan kebiasaan- kebiasaan agama peranannya sedikit.
4. Pelembagaan Agama
Pelembagaan agama adalah suatu tempat atau lembaga untuk membimbing, membina
dan mengayomi suatu kaum yang menganut agama.Agama begitu univeersal , permanan
(langgeng) , dan mengatur dalam kehidupan sehingga bila tidak memahami agama ,
akan sukar memahami masyarakat. Hal yang perlu dijawab dalam memahami lembaga
agama adalah , apa dan mengapa agama ada , unsur-unsur dan bentuknya serta
fungsi dan struktur agama. Contohnya adalah MUI. MUI berdiri sebagai hasil dari
pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zu’ama yang datang dari
berbagai penjuru tanah air, antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama
yang mewakili 26 Provinsi di Indonesia pada masa itu, 10 orang ulama yang
merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah ,
Syarikat Islam , Perti. Al Washliyah, Math'laul Anwar , GUPPI , PTDI , DMI dan
Al Ittihadiyyah , 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat,
Angkatan Udara, Angkatan Laut dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang
merupakan tokoh perorangan. Dari musyawarah tersebut, dihasilkan adalah sebuah
kesepakatan untuk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama. zuama dan
cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah “Piagam Berdirinya MUI,” yang
ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah
Nasional Ulama I.
5.
Contoh dan kaitannya tentang konflik yang ada dalam agama dan masyarakat:
Contoh-contoh dan kaitannya
tentang konflik yang ada dalam agama dan masyarakat didalam masyarakat terdapat
perbedaan agama yang dianut dari masing-masing individu namun diantara mereka
tidak saling menghargai dalam perbedaan agama tersebut , dan akan timbul
permasalahan seperti:
1) Konflik perbedaan pendapat tentang agama.
2) Perpecahan.
3) Peperangan antar agama.
4) Pelecehan Agama.
5)
dll.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar